April 2026, setelah enam siklus terapi intervensi minimal invasif terintegrasi, kondisi pasien asal Indonesia berusia 81 tahun, Tn. Chen, menunjukkan perbaikan yang signifikan. Evaluasi PET-CT menunjukkan: lesi primer di area selangkangan kanan mengalami penyusutan yang jelas dengan penurunan aktivitas metabolik yang signifikan, lesi metastasis pada beberapa kelenjar getah bening juga menyusut dan jumlahnya berkurang. Secara keseluruhan, hasil evaluasi terapi mencapai respons parsial (PR).

1. Kekambuhan yang Sunyi
Pada tahun 2022, Tn. Chen menemukan adanya benjolan di area selangkangan kanan saat berada di rumahnya di Indonesia. Keluarganya membawanya ke Malaysia untuk menjalani operasi pengangkatan, dan hasil biopsi menunjukkan kemungkinan keganasan. Namun, karena enggan menjalani proses yang melelahkan lagi, ia tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut maupun menjalani pengobatan antikanker apa pun.
Setelah tiga tahun dalam keadaan tenang, pada Agustus 2025, tumor tersebut kambuh. Kali ini kambuhnya lebih parah—nyeri menetap di area selangkangan kanan, dan benjolan tersebut membesar dengan cepat. Mereka kembali berangkat ke Malaysia, namun jawaban yang mereka terima sangat mengecewakan: mengingat usia pasien yang sudah lanjut dan kondisi fisik yang kurang baik, kemoterapi sistemik tidak disarankan, dan tidak ada metode pengobatan lain yang lebih baik. Keluarga hampir putus asa.

2. Secercah Harapan dari Internet
Putra Tn. Chen secara tidak sengaja melihat iklan Modern Cancer Hospital Guangzhou di Instagram. Dengan secercah harapan terakhir, ia menghubungi pusat layanan internasional untuk membuat reservasi konsultasi. Dr. Lin Jing tidak sekadar memberikan kata-kata penghiburan yang kosong, melainkan menjelaskan secara rinci langkah-langkah terapi minimal invasif terintegrasi, hasil yang diharapkan, serta perkiraan biaya — dengan alur pemikiran yang jelas dan rencana yang meyakinkan.
“Kami benar-benar sudah tidak punya jalan lain,” kenang sang putra. “Jadi tanpa banyak ragu, kami langsung memutuskan untuk datang ke sini.”

3. Serangan Ganda yang Presisi
Pada November 2025, Tn. Chen berhasil dirawat di rumah sakit. Hasil PET-CT menunjukkan kondisi yang lebih kompleks dari perkiraan: tumor di area selangkangan kanan kambuh disertai metastasis pada beberapa kelenjar getah bening, dengan lesi terbesar berukuran sekitar 7,2×6,2cm. Selain itu, juga ditemukan tumor ganas di paru kiri dengan metastasis ke kedua paru-paru, dan stadium penyakit telah mencapai IVB.
Setelah evaluasi oleh tim MDT, disusun rencana terapi berupa kombinasi intervensi vaskular dan brachytherapy iodine-125. Terapi intervensi vaskular dilakukan dengan menggunakan kateter super kecil yang diarahkan secara presisi ke arteri pemasok darah tumor, sehingga obat kemoterapi berkonsentrasi tinggi dapat langsung dialirkan ke lesi. Pada saat yang sama, pembuluh darah yang menyuplai nutrisi ke tumor diblokir, sehingga memutus “jalur pasokan” tumor. Sementara itu, partikel iodine-125 bekerja seperti “sumber radiasi” mini yang ditanam langsung ke dalam tumor, memancarkan radiasi dosis rendah secara terus-menerus, sehingga menciptakan sinergi ganda bersama terapi intervensi.
4. Perubahan selama Pengobatan
Setelah siklus pertama, perubahan mulai terjadi secara perlahan. Setelah siklus ketiga, tumor terlihat mengecil dengan jelas. Setelah siklus keempat, pembengkakan dan nyeri tekan di area selangkangan kanan Tn. Chen berkurang secara signifikan. Pada 7 April 2026, setelah menjalani terapi intervensi keenam, hasil PET-CT seluruh tubuh memberikan evaluasi yang menggembirakan: lesi di area selangkangan kanan menyusut sekitar 50%, dengan lesi terbesar mengecil hingga 4,0×3,4cm, dan aktivitas metabolismenya menurun secara signifikan. Lesi metastasis pada beberapa kelenjar getah bening yang sebelumnya tersebar juga menyusut, jumlahnya berkurang, dan aktivitas metaboliknya menurun secara signifikan. Hasil evaluasi keseluruhan menunjukkan PR (respons parsial).

5. Efek Samping Ringan, Kualitas Hidup Tinggi
Hal yang paling memuaskan bagi Tn. Chen dan putranya adalah toleransi tubuh terhadap pengobatan. “Tidak ada mual atau muntah, hanya sedikit penurunan nafsu makan,” kata sang putra. “Ayah aktif mengonsumsi suplemen nutrisi, dan sekarang kondisi tubuhnya semakin kuat.”
Mereka membandingkan berbagai pilihan terapi yang tersedia di Asia Tenggara dan menyadari bahwa teknologi minimal invasif presisi seperti ini hampir belum tersedia di daerah setempat. Selain itu, pelayanan rumah sakit juga membuat mereka merasa hangat: penerjemah mendampingi selama proses pengobatan sehingga komunikasi berjalan lancar, dan tenaga medis memberikan perawatan dengan sangat teliti. Jika diminta memberi penilaian untuk rumah sakit, sang putra dengan tersenyum memberikan nilai 8 — menyisakan sedikit ruang untuk perbaikan, tetapi itu sudah merupakan pengakuan yang sangat tinggi.

6. Keluar dari RS dengan Penuh Harapan
Dalam menghadapi kanker, Tn. Chen yang berusia 81 tahun ternyata jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan banyak orang. Saat didiagnosis, ia tidak terlalu larut dalam kesedihan, dan keluarganya pun selalu memberikan dukungan seperti sebelumnya. Seiring dengan membaiknya kondisi kesehatannya dari hari ke hari, ia merasa “kembali seperti sebelum menderita kanker”.
Saat ini, Tn. Chen telah keluar dari rumah sakit dan kembali ke Indonesia untuk menjalani masa pemulihan. Sesuai rencana pengobatan, ia akan kembali ke rumah sakit sekitar tiga bulan lagi untuk pemeriksaan ulang guna mengevaluasi hasil pengobatan jangka panjang. Sebelum pulang, ia menerima wawancara dan berharap dapat berbagi kisahnya kepada lebih banyak pasien: makna hidup bukanlah tentang menghindari rasa sakit dan penyakit, melainkan tentang keberanian menghadapi tantangan serta merangkul setiap harapan kecil dari ilmu pengetahuan dan cinta.