Tahun 2021 merupakan tahun terberat dalam hidup Endy, seorang warga Surabaya, Indonesia.
Saat itu, ia berusia 52 tahun dan kondisi kesehatannya selama ini cukup baik, namun ia mulai merasakan ketidaknyamanan ringan di bagian atas perut. Awalnya ia mengira hanya gangguan pencernaan biasa dan tidak terlalu memperhatikannya. Namun hasil pemeriksaan di rumah sakit setempat membuatnya dan keluarga terdiam seketika—ditemukan lesi massa di ekor pankreas yang telah menginvasi limpa.
Dokter segera menyarankan tindakan operasi. Ia pun menjalani pengangkatan ekor pankreas dan limpa. Hasil patologi pascaoperasi menunjukkan: adenokarsinoma duktus pankreas—jenis kanker yang dikenal memiliki tingkat kekambuhan tinggi dan perkembangan yang cepat, sering disebut sebagai “raja kanker”.
Operasi hanyalah awal. Setelah itu, ia menjalani kemoterapi adjuvan secara sistematis dan memasuki fase kontrol jangka panjang. Selama periode tersebut, hidupnya dipenuhi dengan jadwal pemeriksaan ulang dan penantian hasil.
Ia sempat berpikir bahwa semuanya sudah terkendali.
Namun, perubahan nasib seringkali terjadi tanpa disadari.
Hasil Pemeriksaan Ulang yang Mengejutkan: Metastasis pada Kelenjar Getah Bening Rongga Perut
Pada akhir tahun 2024, sebuah pemeriksaan pencitraan memecah ketenangan yang sempat dirasakan.

Gambar 1: CT sebelum pengobatan Tn. Endy
Pencitraan menunjukkan munculnya bayangan kelenjar getah bening baru di area rongga perut, disertai tingkat aktivitas metabolik tertentu (SUV sekitar 3,0). Dokter menilai bahwa kemungkinan metastasis perlu sangat diwaspadai. Ini berarti tumor mungkin telah “kambuh kembali”.
Saran dari dokter setempat membuatnya bimbang: kelenjar getah bening terletak di posisi khusus (berdekatan dengan pembuluh darah penting) membuat metode pengobatan konvensional sulit dilakukan secara presisi, sehingga sulit menyeimbangkan antara risiko dan efeknya.
Endy dengan tangan gemetar membolak-balik laporan, pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan: setelah menjalani operasi pankreas dan pengangkatan limpa, apakah harus menjalani operasi lagi?
Haruskah melanjutkan metode konvensional yang terbatas, atau mencari kemungkinan baru? Keluarganya pun gencar mencari berbagai pilihan pengobatan—hingga mereka melihat kata-kata “intervensi minimal invasif”.
Terbang ke Guangzhou, Mempertaruhkan Sebuah Kemungkinan
Di internet, keluarga Endy mengetahui tentang terapi intervensi minimal invasif di Modern Cancer Hospital Guangzhou. Metode yang “tidak memerlukan pembedahan besar” ini, memungkinkan pengiriman obat secara langsung ke area pembuluh darah yang memasok tumor, sehingga serangannya lebih tepat sasaran, dan pada saat yang sama dampak negatif terhadap tubuh secara keseluruhan relatif lebih kecil. Hal ini sangat penting bagi Endy yang sudah pernah menjalani operasi besar dan memiliki cadangan tenaga tubuh yang terbatas.
Namun, terbang ke negara yang asing untuk menjalani pengobatan bukanlah keputusan yang mudah. Bagaimana jika terkendala bahasa? Apakah rencana pengobatannya akan sesuai? Jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan, apakah perjalanan ini sepadan? Pada malam-malam menjelang keberangkatan, Endy dan keluarganya berulang kali berdiskusi, hati mereka dipenuhi harapan, namun juga dibebani kegelisahan yang mendalam.
Pada November 2025, Endy didampingi keluarganya terbang dari Surabaya, Indonesia, dan tiba di Guangzhou. Begitu turun dari pesawat, rasa asing di negeri orang langsung menyelimuti dirinya—tulisan yang berbeda, suara yang berbeda, pemandangan jalan yang berbeda, semuanya membuatnya tanpa sadar menjadi tegang.
Namun, ketika ia melangkah masuk ke Modern Cancer Hospital Guangzhou, ketegangan itu perlahan mulai mereda. Rumah sakit menyediakan staf khusus untuk menyambut pasien, dengan penerjemah yang mendampingi sepanjang proses. Mulai dari pendaftaran, konsultasi dengan dokter, hingga berbagai pemeriksaan, setiap langkah dijelaskan dengan sabar dalam bahasa yang ia pahami. Dokter pun tidak terburu-buru membahas pengobatan, melainkan terlebih dahulu menelaah dengan cermat seluruh rekam medis yang ia bawa. Dengan cara yang dapat ia pahami, dokter menjelaskan kondisi penyakitnya saat ini serta langkah-langkah penanganan yang mungkin dilakukan.

Gambar 2: Tn. Endy bersama istrinya
Endy kemudian mengenang: “Sebelum datang, yang paling saya khawatirkan adalah tidak bisa memahami dan tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Tetapi setelah hari pertama berakhir, rasa cemas yang mengganjal di hati saya pun berkurang drastis.”
Lima Tahap Pengobatan Dijalani hingga Tuntas, Data Pencitraan Menjadi Bukti
Setelah tim ahli MDT rumah sakit melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi Endy, disusunlah rencana terapi komprehensif: dimulai dengan kemoterapi infus arteri (HAIC) untuk mengecilkan tumor metastasis di rongga perut, kemudian dikombinasikan dengan brachytherapy guna mempercepat nekrosis tumor.
Pada November 2025, Endy menjalani kemoterapi infus arteri pertama sekaligus brachytherapy. Ia melanjutkan terapi konsolidasi lanjutan hingga Februari 2026. Hasil pemeriksaan ulang setelah terapi menunjukkan bahwa tumor metastasis di rongga perut menyusut secara signifikan, aktivitas metaboliknya menurun drastis, kondisi penyakit berhasil dikendalikan secara efektif, dan kondisi umum pasien baik.
Pengobatan bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dalam sekejap, melainkan sebuah perjuangan yang panjang.
Dari November 2025 hingga Februari 2026, Endy menyelesaikan beberapa rangkaian terapi sistemik dan juga menjalani brachytherapy secara presisi di area lokal. Setiap kali sesi pengobatan selesai, ia akan berjalan beberapa putaran di koridor bangsal dan menyapa perawat dengan bahasa Mandarin sederhana. Perlahan-lahan, rumah sakit di Guangzhou tidak lagi terasa sebagai “tempat pengobatan yang asing” baginya, melainkan menjadi tempat yang membuatnya merasa “ada orang yang benar-benar memperhatikan dan merawat saya.”
Hasil pemeriksaan ulang PET-CT pada 30 Januari 2026 membawa kabar yang menggembirakan. Dibandingkan dengan pencitraan CT pada November 2025: tampak beberapa bayangan kelenjar getah bening di area retroperitoneal dan hilus hati serta peningkatan densitas berbentuk bercak, yang ukurannya telah mengecil secara signifikan dibanding sebelumnya, dengan penurunan metabolisme yang jelas — ukuran maksimum sebelumnya sekitar 3,6 × 3,3 × 3,5cm (SUVmax 3,3), setelah terapi mengecil menjadi 1,0 × 0,9cm, dengan aktivitas metabolik yang menurun signifikan, dan sebagian area sudah tidak menunjukkan kelainan lagi.

Gambar 3
Kiri: 1 November 2025, sebelum terapi, ukuran lesi maksimum sekitar 3,6 × 3,3 × 3,5cm;
Kanan: 30 Januari 2026, setelah terapi, lesi mengecil menjadi 1,0 × 0,9cm
Evaluasi dokter: aktivitas tumor telah ditekan secara signifikan, dan kondisi penyakit secara keseluruhan berhasil dikendalikan dengan efektif.
Yang lebih menenangkan bagi keluarga adalah—berat badan Endy tidak mengalami penurunan yang berarti, pola makan dan tidur masih cukup baik, serta kondisi umum tergolong stabil. Pada pasien kanker pankreas, penurunan berat badan sering terjadi dengan cepat akibat gangguan penyerapan nutrisi dan konsumsi energi oleh tumor; sehingga berat badan yang tetap stabil merupakan tanda penting bahwa penyakitnya terkendali.

Gambar 4: Tn. Endy beserta keluarga berfoto bersama para ahli dan perawat dari rumah sakit kami
Penjelasan Ahli: Terapi Intervensi Membantu Melawan Kanker Pankreas
Adenokarsinoma duktus pankreas memiliki tingkat keganasan yang sangat tinggi, mudah kambuh dan bermetastasis setelah operasi. Kemoterapi intravena konvensional memiliki efektivitas terbatas serta efek samping yang besar. Untuk pasien seperti pada kasus ini, dengan metastasis kelenjar getah bening di rongga perut dan lesi yang berdekatan dengan pembuluh darah besar, terapi intervensi memiliki keunggulan yang signifikan: kemoterapi infus arteri (HAIC) memungkinkan konsentrasi obat di area tumor jauh lebih tinggi dibandingkan kemoterapi sistemik, sekaligus mengurangi kerusakan pada seluruh tubuh; sementara brachytherapy melepaskan radiasi dosis rendah secara terus-menerus di dalam lesi, sehingga menekan aktivitas tumor dalam jangka panjang. Kombinasi keduanya mencapai efek “serangan presisi lokal, perlindungan menyeluruh”.

Gambar 5: Wakil Kepala Bangsal Onkologi Internasional rumah sakit kami, dr. Lin Jing
dr. Lin Jing, Wakil Dokter Kepala, menekankan bahwa kanker pankreas adalah perjuangan jangka panjang. Dengan menjalani pengobatan yang terstandar secara konsisten, melakukan pemeriksaan rutin, serta didukung oleh nutrisi yang baik, bahkan jika terjadi metastasis, masih ada peluang untuk mengendalikan penyakit dalam jangka panjang dan mempertahankan kualitas hidup yang baik.
Setelah Kondisinya Stabil, Kehidupan Dapat Berlanjut
Endy mengakui bahwa ketika pertama kali menerima hasil pemeriksaan yang menyatakan metastasis, tangannya gemetar hingga hampir tidak mampu memegang kertas itu. “Apakah semua penderitaan yang kualami sia-sia?” Pikiran ini sangat membebani benaknya.
Namun seiring berjalannya pengobatan, ukuran lesi menyusut dari 3,6cm menjadi 1cm, dan kondisi tubuhnya tidak memburuk—ia masih bisa makan, tidur, dan berjalan-jalan di koridor. Hal-hal kecil namun nyata yang terasa “normal” ini perlahan menariknya keluar dari keputusasaan.
Kini Endy tampak segar bugar, pola makan dan tidurnya normal. Ia terus menjalani pengobatan pemeliharaan secara oral dan melakukan kontrol rutin. Dari awalnya tangan gemetar dan terdiam saat menghadapi hasil pemeriksaan yang menyatakan adanya metastasis, hingga kini mampu menceritakan pengalaman pengobatannya dengan tenang, perubahannya bukan hanya pada fisik, tetapi juga pada mentalitasnya. Ia berkata: “Dulu saya mengira kanker pankreas berarti menunggu kematian, tetapi sekarang saya yakin bahwa dengan metode yang tepat, kita benar-benar bisa bertahan hidup.”
Kalimat ini adalah jawaban terbaik atas semua usaha, kegelisahan, dan keteguhan yang telah dilalui selama beberapa bulan terakhir.
Kondisi penyakit mungkin tidak dapat dibalikkan dengan mudah, tetapi bisa dikendalikan, dan hidup tetap bisa terus berjalan. Pengalaman Endy menunjukkan satu hal: sejauh apa pun penyakit berkembang, bukan berarti hidup ikut berhenti di titik itu. Yang terpenting adalah apakah kita menemukan jalan yang tepat.
Bahkan kanker yang paling sulit sekalipun dapat diatasi oleh seseorang yang menolak untuk menerima takdirnya. Situasi yang paling terlambat pun masih bisa dihadapi dengan strategi yang tepat. Jangan menyerah, karena penyakit yang paling parah pun masih bisa membaik.