Diagnosis Kanker Kelenjar Getah Bening

Karena tingkat keganasan limfoma yang lebih tinggi, sehingga pencegahan, pendeteksian dan pengobatan dini sangatlah penting. Ahli kanker St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou menuturkan, diagnosis limfoma tidak dilakukan secara sembarangan, karena letaknya yang berbeda dan luasnya lesi, penampakan klinisnya tidak sama, diagnosa yang sembarangan hanya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya salah diagnose. Oleh karena itu, pastikan serangkaian pemeriksaan limfoma dan pilihlah metode yang bersifat ilmiah. Apa saja cara pendiagnosaan limfoma?

Limfoma, gejala, St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou

Metode Pencitraan

1. USG

USG dapat mendeteksi kelenjar getah bening yang berukuran lebih dari 2 cm. Tetapi metode ini tidak dapat mengidentifikasi peningkatan invasi kelenjar getah bening. Ini dikarenakan invasi tumor masih bersifat hiperplasia reaktif atau peradangan kronis. USG dapat mendeteksi pembengkakan pada hati dan limpa, serta nodul tumor yang jelas pada bagian hati dan limpa.

2. Pemeriksaan CT-scan, MRI dan sonografi

Dapat mendeteksi kanker di dalam dada, retroperitoneal, limfatik mesenterika, dan lesi hati serta limpa.

Jika pada pemeriksaan ditemukan adanya kanker, dokter akan mengambil jaringan untuk dibiopsi dan ditentukan sifatnya, apakah jinak atau ganas. Pemeriksaan ini berlaku pada pasien dengan gejala limfadenopati.

Biopsi Tumor

1. Biopsi kelenjar limfa

Biopsi limfoma ganas umumnya dapat diketahui melalui pemeriksaan patologis. Keganasan limfoma biasanya perlu dibuktikan melalui pemeriksaan patologi, dan pada pemeriksaan ini, kelenjar getah bening menjadi objek utamanya.

2. Pemeriksaan darah

Jumlah sel darah putih pada pasien dengan limfoma Hodgkin biasanya berada dalam kadar normal, dan pada stadium akhir jumlah limfositnya akan menurun. Pada pasien dengan limfoma non-Hodgkin, pada saat pemeriksaan biasanya memiliki jumlah sel darah putih di atas normal dan disertai dengan peningkatan limfosit relatif atau absolut.

3. Biopsi sumsum tulang

Kerusakan sumsum tulang pada penderita limfoma umumnya mencapai 40%-90%. Karena pentingnya pemeriksaan sumsum tulang secara klinis, sehingga diperlukan pemeriksaan biopsy setidaknya 1 kali atau lebih.

4. Biopsi hati

Pada kasus limfoma non-Hodgkin, limfosit kecil dan limfosit kecil berlekuk lebih mudah merusak hati daripada sel besar.

5. Biopsi jaringan

Merupakan pemeriksaan yang tidak boleh dilewatkan. Umumnya menggunakan kelenjar di bagian leher ataupun bagian ketiak.

6. Mediastinoscopy

Dapat masuk ke biopsi mediastinal melalui extrapleural, relatif lebih mudah dan aman.

Ahli onkologi St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou menghimbau : Jika anda terdiagnosa limfoma, jangan panik. Pilihlah metode pengobatan sesuai dengan kondisi pasien, dan berkonsultasilah ke beberapa ahli. Umumnya, limfoma tidak mudah dioperasi, terlebih jika kanker sudah menekan saraf dan mendekati saluran darah, disarankan untuk menjalani metode komprehensif, menggunakan metode minimal invasif, agar pasien bisa mendapatkan pengobatan yang efektif.


Untuk pertanyaan lebih lanjut, anda dapat menghubungi kami via online, email atau telepon. Untuk info-info terkini, anda dapat mengunjungi Facebook dan Youtube kami.
Konsultasi kanker via telp
Hubungi : 0812 978 978 59