Pada 28 Oktober 2025, seorang anggota keluarga yang telah lama tidak berkunjung, kembali menapakkan kaki di Modern Cancer Hospital Guangzhou—Dedi Irwan Sugianto dari Jember, Indonesia. Sudah genap dua belas tahun sejak ia berhasil mengalahkan limfoma Hodgkin. Ketika ia kembali memasuki rumah sakit yang pernah memberinya kehidupan baru, di tangannya tergenggam foto-foto lamanya bersama para dokter dan perawat, sementara matanya berkilau dengan air mata dan senyum. Momen itu bukan hanya sebuah pertemuan kembali dengan kehidupan, tetapi juga menjadi saksi tentang rasa syukur, pertumbuhan, dan harapan.

Dedi Irwan Sugianto
Momen Tergelap dalam Hidup: Ketika Leher ‘Terkunci’ oleh Tumor
Sugianto pernah menjadi seseorang yang ‘dipenjarakan’ oleh tumor raksasa. Benjolan di lehernya mencapai ukuran 25×15cm, lebih besar dari kepalanya sendiri. Menoleh atau menunduk, gerakan sederhana bagi orang lain, menjadi sesuatu yang mustahil baginya. Setelah didiagnosis limfoma Hodgkin stadium IV pada Juli 2012, dokter setempat menyarankan kemoterapi sistemik. Namun karena khawatir akan efek sampingnya, ia memilih pengobatan herbal, dan hasilnya tumor tumbuh dengan sangat cepat. “Saat itu saya pikir hidupku mungkin sudah berakhir,” kenangnya dengan suara lirih.

Juni 2013, Sugianto dirawat di rumah sakit untuk pertama kalinya
“Intervensi Minimal Invasif: Keajaiban Hidup melalui Sayatan 1mm
Setelah bertanya ke berbagai pihak, seorang pejuang kanker memberi tahu Sugianto bahwa pengobatan di Modern Cancer Hospital Guangzhou sangat efektif. Setelah mempelajari tentang terapi intervensi di Pusat Layanan Internasional Surabaya, ia datang ke Modern Cancer Hospital Guangzhou pada Juni 2013 dengan harapan terakhir. Tim MDT merancangkan rencana pengobatan minimal invasif yang komprehensif untuknya dengan fokus pada terapi intervensi. “Dokter memberitahu saya, hanya dengan sayatan 1–2mm, tumor bisa dibunuh secara tepat.” Yang paling menyentuh baginya adalah tim penerjemah yang menggunakan bahasa Indonesia sepanjang proses, membuatnya “menemukan perasaan seperti di rumah di negeri asing”.
Yang lebih mengejutkannya, proses pengobatan hampir tidak menimbulkan rasa tidak nyaman: “Saya pikir akan sangat menyakitkan, tapi ternyata kualitas tidur dan nafsu makan saya tetap baik.” Beberapa bulan kemudian, lehernya secara ajaib kembali ‘langsing’ seperti semula, dan tumornya hilang sepenuhnya.


Tahun 2013, Sugianto sering berfoto bersama para tenaga medis

Tahun 2016, staf Pusat Layanan Internasional Surabaya mengunjungi Sugianto
Dua Belas Tahun Kelahiran Kembali: Kehidupan Bermekaran dengan Anggun di Ujung Pena dan Dahan
Dua belas tahun setelah keluar dari bayang-bayang kanker, waktu telah menjadi sekutu paling lembut bagi Sugianto. Kini, hidupnya dipenuhi oleh ketenangan seni dan kehangatan keluarga. Dengan semangat yang besar, ia memuji dan merayakan kehidupan—menuangkan inspirasi di atas kanvas, serta menumbuhkan kehidupan baru di taman. Bunga bougenville, sebagai tema jiwa dalam seni dan kehidupannya, dengan daya hidupnya yang melimpah, menghubungkan dan menafsirkan secara mendalam keajaiban “kelahiran kembali” yang pernah ia alami.



Kehidupan Sugianto setelah berhasil melawan kanker
Dua belas tahun yang dilalui dalam suka dan duka, bagi Sugianto adalah tentang kebersamaan sekaligus anugerah. Ia berbagi setiap pagi dan senja bersama keluarga. Bersama keluarganya, ia merasakan kehangatan rumah di tengah berkah Idul Fitri. Dengan penuh rasa syukur, ia menyaksikan ketiga putranya menyelesaikan pendidikan dan memulai karier mereka dengan lancar. Di setiap momen penting dalam hidup mereka, ia selalu ada untuk mereka, mewujudkan bentuk kasih sayang seorang ayah yang terdalam melalui dukungannya yang tak tergoyahkan. “Saya sungguh berterima kasih kepada rumah sakit yang telah memberi saya kehidupan kedua, sehingga saya dapat memiliki semua kebahagiaan sederhana ini.”

Foto bersama Sugianto dan keluarganya pada tahun 2023
Kembali ke “Rumah”: Ungkapan Terima Kasih untuk Kehidupan selama 12 Tahun
Saat menerima undangan “Acara Reuni Penyintas Kanker” tahun 2025, Sugianto diliputi berbagai perasaan. Dua belas tahun telah berlalu dalam sekejap mata—mulai dari keberhasilan melawan kanker pada 2013, pertemuan kembali dengan staf Pusat Layanan Internasional Surabaya pada 2016, hingga berbagi harapan dalam acara berbagi pengalaman melawan kanker pada 2024. Setiap momen penting itu menjadi bukti betapa berharganya kehidupan.
Pada 28 Oktober 2025, ia kembali ke rumah sakit bersama putranya. Saat bertemu dengan Profesor Hu Ying, ia menggenggam erat tangan sang dokter sambil menahan haru dan berkata, “Dua belas tahun telah berlalu, akhirnya saya bisa mengucapkan terima kasih kepada Anda secara langsung sekali lagi.” Rasa syukur ini mengandung makna mendalam dari seorang ayah yang menyaksikan pertumbuhan anaknya dan kehidupan baru yang bersemi.
Dalam perbincangan dengan 13 pejuang kanker lainnya dari berbagai penjuru dunia, ia berbagi dengan penuh emosi, “Kanker bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan baru.” Menjelang masa pensiunnya yang akan datang, ia berencana mencurahkan lebih banyak waktu untuk melukis dan berkebun, serta terus menggunakan pengalamannya sendiri untuk menyemangati para penyintas kanker lainnya, agar cinta yang melampaui batas negara ini dapat diteruskan selamanya.

Sugianto berpartisipasi dalam seminar pengobatan kanker di Surabaya

Dua belas tahun kemudian, Sugianto berfoto bersama para tenaga medis
·
Sugianto mengikuti acara peringatan 20 tahun “Reuni Penyintas Kanker”
Kisah Sugianto bagaikan bunga bougenville yang semakin indah meskipun telah diterpa badai. Dua belas tahun lalu, teknologi intervensi minimal invasif yang maju memberinya kesempatan untuk terlahir kembali. Selama dua belas tahun terakhir, layanan tindak lanjut dan perawatan humanis terus menghangatkan kehidupannya. Pengalamannya membuktikan bahwa dengan memilih metode pengobatan yang tepat serta dengan keyakinan yang teguh, setiap kehidupan dapat berkembang menjadi keajaiban di tengah situasi paling sulit.
